JURNALEKONOMI.CO.ID — Kelompok Houthi di Yaman mengeklaim Arab Saudi melancarkan 26 serangan ke wilayah yang mereka kuasai dalam 24 jam terakhir. Klaim itu muncul bersamaan dengan laporan PBB yang mencatat lebih dari 112 ribu orang mengungsi akibat pertempuran yang kembali memanas sejak Juli 2026.
Houthi juga menyebut selama sepekan terakhir terjadi sekitar 300 serangan dari Arab Saudi dengan sasaran berbagai daerah di Yaman yang berada di bawah kendali mereka. Klaim tersebut disampaikan pada Jumat (18/9), tanpa menyertakan rincian lokasi maupun korban dari pihak Saudi.
Perang saudara antara kelompok pro-Iran itu dan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh memang sempat mereda sejak 2022. Namun konflik kembali berkobar pada Juli 2026 dan kini memasuki fase baru yang jauh lebih luas.
Kembalinya Perang Setelah Tiga Tahun Relatif Tenang
Konflik ini berakar pada 2014, ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan memicu intervensi militer Arab Saudi setahun kemudian. Riyadh memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Intervensi itu memperbesar eskalasi dan mendorong Yaman ke salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Negara itu termasuk yang paling miskin di kawasan, dan perang memperparah keruntuhan layanan dasar.
Pada September 2026, Houthi yang sebelumnya sudah menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk padat melancarkan serangan kilat. Targetnya: merebut seluruh pesisir Laut Merah Yaman.
Selat Bab al-Mandab dan Blokade Maritim
Penguasaan pesisir itu memberi Houthi kendali atas Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Selat ini vital bagi perdagangan minyak dan kargo global.
Houthi menyatakan memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Kelompok yang basis utamanya Muslim Syiah Zaidi di Yaman utara itu menegaskan pelayaran di selat tetap terbuka dan bebas, kecuali bagi kapal milik Saudi.
Sebelumnya, Saudi menggunakan jalur ini untuk ekspor minyak guna menghindari Selat Hormuz yang tertutup akibat perang di Timur Tengah. Data perusahaan pelacak maritim Kpler menunjukkan ekspor Saudi melalui Bab al-Mandab menurun sejak Juli 2026.
Meski begitu, lima kapal bermuatan dilaporkan masih melintasi selat tersebut dalam sepekan terakhir.
112 Ribu Orang Mengungsi, Ribuan Melarikan Diri ke Djibouti
PBB pada Jumat (19/9) menyatakan pertempuran ini telah menyebabkan lebih dari 112 ribu orang mengungsi. Hampir tiga ribu orang lainnya melarikan diri melintasi laut menuju Djibouti.
Arus pengungsian itu menambah beban penduduk Yaman yang kondisinya sudah memprihatinkan setelah bertahun-tahun konflik. Djibouti, negara tetangga di seberang Teluk Aden, kini menampung gelombang baru pengungsi.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Saudi maupun koalisi mengenai klaim 26 serangan tersebut. PBB terus mendesak kedua pihak menahan diri agar krisis kemanusiaan tidak makin meluas.