JURNALEKONOMI.CO.ID — Dashlane merilis fitur Vault Enforcement untuk menutup celah adopsi password manager di perusahaan, di mana 37% aplikasi korporat masih belum terhubung single sign-on. Fitur ini memaksa karyawan login lewat Dashlane pada domain tertentu melalui ekstensi browser yang dipasang lewat kebijakan IT. Langkah ini menyasar kebiasaan lama karyawan yang kembali mengetik password manual meski tools keamanan sudah disediakan perusahaan.
Dashlane memperkenalkan Vault Enforcement, fitur baru yang memaksa karyawan masuk melalui vault password perusahaan saat mengakses domain yang ditentukan admin. Fitur ini kini masuk tahap open beta untuk perusahaan pengguna paket Omnix Enterprise yang memakai browser Chrome atau Edge.
Langkah Dashlane menyasar pola yang oleh perusahaan disebut sebagai adoption gap. Tim IT sudah memasang tools, mengirim email onboarding, dan mencatat pemakaian yang layak di bulan pertama. Enam bulan kemudian, karyawan kembali mengetik password ke formulir karena tidak ada aturan yang benar-benar mewajibkan mereka memakai vault.
Cara Kerja Vault Enforcement
Admin IT bisa mewajibkan karyawan login lewat Dashlane pada domain spesifik. Kebijakan ini dijalankan melalui ekstensi browser yang dipasang lewat manajemen kebijakan, bukan instalasi manual per perangkat.
Pada hari pertama, karyawan menerima webcard peringatan saat membuka formulir login di domain yang diwajibkan. Mulai hari berikutnya, formulir tersebut diblokir sampai karyawan masuk ke vault Dashlane.
Admin dapat menambahkan logo perusahaan dan kontak help desk pada kartu peringatan itu. Cara ini memberi jalur pengaduan yang jelas sebelum keluhan karyawan menumpuk di meja IT.
37% Aplikasi Korporat Tanpa SSO
Data Dashlane menunjukkan 37% aplikasi korporat belum dikelola oleh single sign-on. Artinya lebih dari sepertiga permukaan aplikasi perusahaan hanya dijaga kombinasi username dan password, tanpa lapisan keamanan lain di depannya.
Telemetri Dashlane mencatat sejumlah aplikasi bisnis yang paling sering menerima autofill password ketimbang login lewat identity provider. Daftarnya mencakup Salesforce, DocuSign, Adobe, Zoom, GitHub, Dropbox, Box, dan Atlassian.
Sebagian kasus berasal dari praktik yang disebut SSO tax, di mana vendor mengenakan biaya lebih tinggi untuk metode login tersebut. Sebagian lain adalah password lama yang masih berfungsi di aplikasi yang sebenarnya sudah terintegrasi SSO bertahun-tahun lalu.
Passkey Masih Sulit Dipahami Karyawan
Passkey menawarkan solusi phishing yang lebih kuat, dan implementasinya di ekosistem Apple tergolong mudah. Namun pertanyaan mendasar soal di mana passkey disimpan dan apa yang terjadi jika ponsel hilang masih sulit dijawab dengan cara yang mudah dipahami karyawan non-teknis.
Coba tanyakan kepada karyawan non-teknis apakah passkey mereka tersimpan di iCloud Keychain, di password manager, atau di perangkat itu sendiri. Jawaban yang muncul sering tidak konsisten.
Kebingungan ini punya konsekuensi nyata. Karyawan yang tidak memahami sebuah alat keamanan cenderung mencari jalan pintas, dan kontrol keamanan yang bisa dilewati pada praktiknya bukan kontrol sama sekali.
Dampak ke Pengguna Dashlane
Vault Enforcement menandai pergeseran pendekatan Dashlane dari sekadar edukasi ke penegakan aturan. Fitur ini berjalan di atas ekstensi yang dipasang lewat policy dan mensyaratkan SSO sudah aktif di lingkungan perusahaan.
Bagi pelaku bisnis digital di Indonesia, pola adopsi serupa kerap muncul saat perusahaan mewajibkan penggunaan password manager internal. Penerapan kebijakan teknis biasanya lebih efektif ketimbang kampanye kesadaran keamanan yang bergantung pada kesukarelaan karyawan.
Fitur ini masih dalam tahap open beta, sehingga cakupan platform dan rencana perluasan ke browser lain belum diumumkan lebih lanjut. Perusahaan yang ingin mencoba perlu memastikan dua syarat utama: paket Omnix Enterprise aktif dan SSO sudah berjalan.