JURNALEKONOMI.CO.ID — Amerika Serikat menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam serangan kinetik terhadap Houthi, meski kelompok yang didukung Iran itu terus memperluas penguasaan wilayah strategis di Laut Merah. Dukungan Washington sejauh ini terbatas pada intelijen dan data penargetan untuk Arab Saudi, memicu pertanyaan di kalangan pejabat Teluk soal dari mana serangan balasan akan datang.
Sejumlah sumber yang berbicara kepada CNN menyatakan keraguan bahwa Arab Saudi mampu menghentikan Houthi sendirian. Keraguan itu muncul setelah Riyadh, kendati menerima tambahan dukungan intelijen dan penentuan target dari AS, belum efektif mencegah kelompok tersebut merebut kota-kota pesisir penting di Yaman.
Kemajuan Houthi terbaru mencakup penguasaan atas sebuah pulau yang secara strategis penting di Laut Merah. Menurut para pejabat AS, perkembangan itu telah memberi pukulan tambahan bagi kawasan yang sedang terguncang akibat ketegangan AS-Iran, sekaligus memperparah krisis energi global.
Posisi Trump: Garis Merah dan Serangan Kinetik
Presiden Donald Trump menegaskan bahwa "garis merah" baginya saat ini adalah keterlibatan langsung AS dalam serangan kinetik terhadap Houthi. Hingga kini, dukungan militer Washington terbatas pada penyediaan intelijen dan data penargetan untuk operasi Saudi.
"Tidak ada serangan ofensif," ujar seorang pejabat AS, seperti dikutip CNN.
Sejumlah sumber di kawasan Teluk dan AS menilai pesan Trump itu mengisyaratkan kepada Iran bahwa ia enggan mendukung penuh sekutu-sekutu Amerika di kawasan. Sikap tersebut dinilai memperkuat posisi Houthi di medan perang.
Houthi Kirim Sinyal, Trump Sebut Arab Saudi
Trump mengungkapkan bahwa Houthi telah menghubungi pihaknya dan menyatakan tidak ingin berperang melawan AS. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Irlandia akhir pekan lalu.
"Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin berperang melawan kami," kata Trump. "Mereka tidak ingin kami menyerang mereka dan lebih memilih kami tidak terlibat; mereka juga membiarkan sebagian besar kapal melintas."
Dalam pernyataan yang sama, Trump merujuk pada satu negara yang menurutnya membuat Houthi "tidak terlalu senang". "Hanya ada satu negara yang membuat mereka tidak terlalu senang," ujar Trump merujuk pada Arab Saudi, "dan kami akan membereskan masalah itu."
Selat Bab al-Mandab dan Bayang-bayang Perang Yaman
Para pejabat AS mengakui Houthi terus bergerak maju dengan tujuan akhir menguasai Selat Bab al-Mandab yang vital. Namun pemerintahan Trump mengisyaratkan minimnya minat mengerahkan militer Amerika untuk menghentikan mereka, dan justru mengandalkan Arab Saudi.
Selama berbulan-bulan, laporan intelijen AS telah mengindikasikan kelompok tersebut akan berupaya menutup jalur perairan penting lainnya bagi pelayaran komersial. Pola itu disebut meniru langkah yang dilakukan Iran pada awal tahun ini.
Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi mulai memerangi Houthi lebih dari satu dekade lalu di tengah perang saudara yang brutal. Houthi mendapat dukungan dan pelatihan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Gencatan senjata yang ditengahi PBB pada 2022 sempat menciptakan periode dengan tingkat permusuhan yang relatif rendah. Namun pertempuran kembali pecah dan meningkat intensitasnya dalam beberapa minggu terakhir.
Pihak Saudi menuduh Houthi menargetkan Mekkah, kota paling suci dalam Islam. Houthi di sisi lain mengklaim telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 milik Saudi. Kedua klaim belum diverifikasi secara independen.
Mengapa Negara Teluk Kehilangan Kesabaran
Langkah-langkah Houthi tidak mengejutkan bagi sejumlah sumber di kawasan maupun para mantan diplomat. Kelemahan pasukan Yaman yang didukung Saudi, menurut mereka, sudah menjadi rahasia umum sejak lama.
AS meyakini pihaknya telah menyediakan segala hal yang dibutuhkan Arab Saudi untuk meraih keberhasilan menghadapi Houthi. Seorang pejabat Amerika merujuk pada peningkatan dukungan intelijen dan data penentuan target yang baru-baru ini diberikan kepada Kerajaan.
Namun sumber-sumber di Teluk menilai dukungan itu belum cukup. Frustrasi di kalangan pejabat Teluk dan Amerika pun mencuat, terutama karena tidak ada rencana jelas untuk memukul mundur Houthi dari posisi mereka saat ini.